
YongPyong Departemen, Gangwon, Korea Selatan..
Author POV
Seorang pria keluar dari balik jajaran pohon pinus yang hampir seluruh daunnya berwarna putih karena tertutup oleh salju. Ia mengeratkan jaket hijau tebal di tubuhnya yang bisa dibilang kurusan semenjak pekerjaannya selama 2 tahun belakangan ini menjadi sangat sibuk. Ia juga membetulkan letak syal putih yang membalut lehernya kemudian memasukkan tangannya kedalam kantong, mencari kehangatan. Ia memandang berkeliling, tempat ini sangat sepi karena memang belum waktunya dibuka untuk umum. Ia masuk ke sebuah penginapan.
“Annyeong Haseyo “ ucapnya sambil mendorong pintu.
“Annyeong, Selamat Datang.” Jawab si resepsionis yang sedang membersihkan meja tamu. Ia menoleh kearah si pengunjung.
“KyuHyun ssi !!” ucap Sang Bin setengah teriak.
Ia menghampiri KyuHyun. “Apa kabar?! Sudah lama tidak kesini, mau menginap berapa hari?” tanya Sang Bin antusias. Kyuhyun merupakan pengunjung tetap di resort ski ini sejak ia masih belum sesibuk sekarang dan masih bersama seorang yang sangat ingin dia lupakan 2 tahun lalu.
“nde~ baik-baik saja Sang Bin ssi” jawab KyuHyun dengan senyum terpaksa. “ Anii~ saya hanya berkunjung kesini, sekedar menyegarkan pikiran.” Ucapnya sambil menggelengkan kepala.
“aaah, ara~” Sang Bin menganggukkan kepalanya, ia memperhatikan KyuHyun yang terlihat sangat lelah. Seingatnya terakhir mereka bertemu sekitar 2 tahun yang lalu dan biasanya kalau kesini, KyuHyun tidak pernah sendiri. Ia mengedarkan pandangannya keluar, mencari orang yang dimaksud.
“Hanya sendiri? tanyanya ragu.
“nde~ hanya sendiri.” jawab KyuHyun yakin.
Flashback…
9 Desember 2008
Hyo Sung POV..
“Hyo Sung-ah , aku sudah menunggu didepan rumahmu setengah jam lebih dan kau belum juga keluar menemuiku. Apa yang sedang kau lakukan sih?” tanyanya ditelepon dengan sabar.
“ya Oppa!! kau ini cerewet sekali sih. Tunggu sebentar, nanti aku akan menemuimu.” Balasku galak.
“ara~, akan kutunggu.” Jawabnya mengalah.
Kemudian aku memasang earphoneku kembali dan memutar playlist boyband favoritku, Super Junior. Aku bernyanyi mengikuti lagunya dan sesekali menari mengikuti koreo yang kulihat di videoklip. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk, “masuk oppa, tidak kukunci kok” kataku. Kemudian pintu dibuka oleh oppa ku, Hyuk Jae.
“kau sedang apa Hyo ? Apa kau tahu kalau Kyu menunggumu diluar?” tanyanya.
“nde, tapi aku sedang tidak ingin bertemu dengannya oppa” jawabku santai.
Ia duduk diatas kasurku, “wae? Ada masalahkah? Kalaupun iya, pasti kau yang memulainya.” Tanyanya sinis.
“cih, kau seperti tidak mengenalku saja oppa, kalau aku sedang tidak ingin bertemu ya tidak.” Jawabku tak kalah sinis.
“dasar anak ini, nanti kalau semuanya berbalik kepadamu jangan bilang kalau aku tidak pernah mengingatkanmu” ucapnya sambil berjalan keluar dari kamarku.
Aku menutup pintu lalu berjalan kearah jendela dan melihat keluar. Kulihat ia sedang melamun sambil sesekali tersenyum,”cih~ apa yang sedang dipikirkannya”. Aku menuju kasur dan merebahkan tubuhku.
“aah~ aku memang tidak sedang ingin bertemu dengan namja itu, tidak baik jika dipaksakan bukan?” tanyaku pada diri sendiri. “nanti dia pasti akan pulang seperti biasanya”. Lanjutku lagi sambil memejamkan mata dan mencoba tidur.
KyuHyun POV..
Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba lebih bersabar dan menunggunya. Aku melirik jam tanganku, pukul 9.00, aku akan menunggunya 15 menit lagi. Hari ini adalah hari anniversary kami yang pertama, Entah ia mengingatnya atau tidak tapi yang jelas aku ingin sekali merayakannya. Jadi aku memutuskan untuk mengajaknya bertemu didepan rumahnya dan aku juga membawakan setangkai mawar putih kesukaannya. Selama kami berpacaran, frekuensi pertemuan kami bisa dihitung dengan jari. Mungkin dikarenakan jadwal kuliahku yang padat dan dia juga harus belajar untuk menempuh Ujian Negara. Jadi kami hanya bertemu jika benar-benar punya waktu kosong.
Aku tersenyum membayangkan wajahnya, yang selama 1 tahun ini telah menemani hari-hariku. Membuatku semangat untuk menjalani aktifitasku yang sangat padat.
” Aaah~ aku sangat merindukanmu Hyo.” Bisikku sambil terus menatap fotonya yang menjadi wallpaper ponselku.
Hyosung tidak suka bila aku kadang-kadang melakukan hal-hal yang romantis, aku tahu dia menyukainya, tapi ia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Ya, dia amat sangat gengsi dan cuek. Tapi sekali lagi aku tahu kalau dia selalu memperhatikanku. Dia juga lebih sering bercerita dengan sahabatnya dibanding denganku. Well, aku memang tidak pernah memaksanya bercerita denganku. Tapi kadang-kadang aku ingin merasa dibutuhkan olehnya. Kami punya kegiatan rutin setiap bulannya, yaitu pergi ke ski resort. Awalnya dia selalu menolak dengan alasan tidak bisa bermain ski. Tetapi setelah aku paksa, ia akhirnya mau pergi. Aku mengajarinya bermain ski beberapa kali , tetapi ia lebih suka berfoto disana dengan alasan ‘sayang jika melewatkan pemandangan sebagus ini’. Aku mengalah dan mengikuti kemauannya. Aku hanya tidak ingin dia merasa tidak nyaman bersama denganku. Aku sangat menyayanginya, melebihi diriku sendiri walaupun kenyataanya dia lebih sering mengecewakanku dengan semua sikapnya. aku melihat jam tanganku lagi, ‘aish, kemana anak ini? Apa sih yang dilakukannya dirumah?’ gerutu ku. Aku coba menghubunginya lagi, tetapi tidak diangkat. ‘pasti sudah tertidur’ gumamku. Aku lalu meletakkan mawar putih itu didepan pintu rumahnya, “ Happy Anniversary Hyo, semoga tahun depan kita bisa merayakannya bersama.” harapku dan kemudian aku beranjak pulang.
-000-
3 Februari 2009
KyuHyun POV…
Aku baru saja selesai meminjam buku di perpustakaan kampus untuk tugas makalah yang harus dikumpulkan minggu depan. Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Neo gateun saram tto eopseo juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi
“SAENGIL CHUKKAHAMNIDA KYUHYUN-AH !!!” belum sempat aku mengucapkan halo, suara diseberang sudah lebih dulu berteriak. Aku menjauhkan ponselku dari telinga.
“YA!! Kalian mau membuatku tuli hah?!” bentakku kesal.
“MWOYA!! Kau ini tidak tahu berterima kasih! Sudah bagus kami mengucapkannya kepadamu. Aish jinjja!” marah Heechul hyung ditelepon.
Aku tertawa membayangkan expresi wajah Heechul hyung yang memerah seperti kepiting rebus. Belum lagi Kangin hyung, Hankyung hyung dan hyung-hyungku yang lainnya. 3 dari mereka adalah seniorku dikampus, sedangkan yang lainnya adalah teman ke 3 seniorku. Aku sangat nyaman bersama dengan mereka, mereka bahkan sudah kuanggap seperti keluargaku. Mereka selalu membantuku apabila aku mempunyai masalah, terutama dengan HyoSung. Aku sangat bersyukur bisa mengenal hyung seperti mereka.
“ahahaha, jeongmal gomapta hyungdeul, aku saja tidak ingat kalau hari ini ulang tahunku. Gomapseummnida hyung.” Aku sangat terharu mendengarnya.
“ye ye ye, kami sedang berada di restoran tempat biasa kita berkumpul, datanglah kesini, palli~” ucap Teukie hyung.
“nde, arasso~ 10 menit lagi aku akan sampai” aku mengakhiri pembicaraan dan memasukkan ponselku kedalam kantong jaketku.
Sebuah butiran dingin halus jatuh tepat diatas hidungku, aku menengadahkan kepalaku.
“aah, Salju, semoga ini menjadi pertanda baik dihari ulang tahunku ini.” harapku sambil berjalan menuju restoran tempat hyung ku berada.
Marvelous Restaurant…
“KyuHyun ah, hadiah apa yang kau dapat dari HyoSung ?” tanya Donghae hyung penasaran. Semua hyung pun tiba-tiba menghentikan makan mereka dan menatapku dengan wajah serius.
Aku yang sedang menikmati jjangmyeonku pun hampir tersedak melihat tampang serius mereka. Aku terbatuk dan langsung disodori minum oleh hankyung hyung. “ Ya! Hyung, kenapa muka kalian serius sekali.” Ucapku sambil memperhatikan mereka satu persatu.
“aish, jangan mengalihkan pembicaraan. Sudah cepat jawab.” Kata Siwon hyung .
“aish, kalian ini seperti tidak mengenal HyoSung saja. Dia bukan tipe yeoja yang suka memberikan kejutan ataupun hadiah.” Jawabku sambil melanjutkan memakan jjangmyeon.
“aahhhh~” semua hyungku menghela nafas berbarengan. Aku hampir tersedak lagi karena kelakuan mereka.
“aku heran sekali denganmu hyun-ah, bisa-bisanya kau menjalin hubungan dengan yeoja yang super cuek seperti HyoSung . Dan itu sudah berlangsung selama 1 tahun, ckck” Teuki hyung menggelengkan kepalanya karena heran.
“apa kau yakin kalau dia, emm, mianhe, benar-benar menganggapmu sebagai namjachingu nya?” sambung Sungmin hyung.
Aku tertawa mendengar perkataan hyung ku, “ apa yang sedang kalian bicarakan sih, tentu saja dia menganggapku sebagai namjachingunya dan aku sangat menikmati hubungan kami sekarang.” Kilahku sambil terus menghabiskan makananku. Aku sebisa mungkin tidak menunjukkan perasaan kecewaku. Cukup aku saja yang merasakan perasaan ini. Aku yang memilihnya menjadi yeojachinguku dan ini sudah merupakan resiko dari sebuah hubungan yang sedang kujalani dengannya sekarang ini.
“sudah sudah, kita kan mau merayakan ulang tahun dongsaeng kita, jadi lupakan saja hal-hal yang tadi.” Ucap Yesung hyung sambil mengangkat gelas minumannya, “untuk kyuhyun, semoga semua yang baik datang padanya dan semua yang buruk pergi darinya. Cheers”
“Cheers~” kami mengangkat gelas minuman masing-masing. Aku merasa lega karena yesung hyung menyelamatkan ku dari introgasi hyung lainnya. Aku melihat kearahnya dan tersenyum. Ia mengedipkan sebelah matanya kearahku tanda mengerti maksud senyumku kepadanya.
-000-
HyoSung POV…
Kelas intensive bimbingan belajar…
“HyoSung-ah .. bukannya hari ini ulang tahun kyuhyun oppa?” tanya HyeHoon tanpa melihatku sama sekali, matanya memperhatikan penjelasan seonsaengnim dan tangannya sibuk mencatat.
“jinjja? Tanggal berapa memang sekarang?” tanyaku dengan mata tetap tertuju kedepan memperhatikan penjelasan tentang “Limit tak hingga”. Aku sangat bodoh dalam matematika, dan untungnya aku mempunyai namjachingu yang expert dalam hal ini. Ya, aku mempunyai seorang namjachingu bernama Cho Kyuhyun yang sangat ahli dalam matematika. Dia pernah mengajariku beberapa kali, tetapi selalu berakhir dengan perdebatan karena aku gampang sekali menyerah apabila sudah tidak mengerti. Aku teringat waktu terakhir kami bertemu, sekitar 2 bulan yang lalu. Tetapi itu juga tidak bisa dibilang bertemu karena aku hanya melihatnya dari jendela kamarku.
“aish, anak ini. Ya! Kau ini punya masalah dengan ingatanmu ya? Sudah setahun kalian menjalin hubungan, kau belum juga mengingat tanggal lahirnya. Kasihan sekali kyuhyun oppa.” Omel Hye hoon sambil melirik sinis kearahku.
Aku tertawa melihat tatapan sinis dari Hyehoon,” molla, mungkin otakku tidak mau mengingatnya.” Jawabku santai.
“cih~ kalau nanti semuanya berbalik kepadamu jangan bilang kalau aku tidak pernah mengingatkanmu.” Ucapnya sinis.
Kata-kata yang sama seperti yang diucapkan hyuk oppa. Setahun? Omona~ aku tidak menyadarinya sama sekali. Mungkin aku akan menelponnya sepulang bimbingan ini, mengucapkan selamat ulang tahun, membelikan kue tart kecil, mengajaknya bertemu ditaman depan rumahku, memberikan kejutan…. Wait!! Apa yang kupikirkan? kenapa tiba-tiba aku berubah seperti ini. “errr~” aku menggelengkan kepalaku mencoba mengusir ide yang sama sekali bukan diriku.
-000-
Author POV…
Kyuhyun menoleh sekilas kearah ponselnya yang diletakkan di samping laptopnya. Tidak ada sms ataupun panggilan dari HyoSung . “Kemana dia? Apa dia melupakannya?” batin kyuhyun kecewa. Ia lalu melanjutkan bermain game dan berharap saat dia melihat ponselnya lagi akan ada sms atau panggilan dari yeoja itu.
Sementara itu di rumah HyoSung..
HyoSung mengeluarkan sebuah kardus dari dalam taksi, dan membayar taksinya. “aish, lumayan berat ternyata” keluhnya. Ia memutar kenop pintu dan ternyata dikunci. Lalu ia menekan bel rumahnya dengan tidak sabar berkali-kali. “ oppa!! Palli, bukakan pintu” teriaknya. Hyuk Jae berlari kearah pintu depan dan segera membukakan pintu. Dilihatnya dongsaengnya membawa sebuah kardus sedang.
“ya! Apa isi kardus ini? Experiment apa lagi yang ingin kau lakukan?” tanya Hyuk Jae penasaran. Dongsaengnya ini suka sekali membeli barang dalam jumlah banyak dan pada akhirnya hanya akan berakhir digudang belakang rumah. Pemborosan!! (u,u)
HyoSung terus berjalan menuju kamarnya dilantai atas, “ mau tau aja sih oppa” jawabnya acuh.
Hyuk jae merasa kesal dengan jawaban dongsaengnya ini , “mwoya!! Kau ini selalu membantah jika kuberitahu, nanti aku laporkan kepada appa dan eomma agar uang jajanmu dikurangi!!” teriak Hyuk dari lantai bawah.
HyoSung hanya tertawa menanggapi perkataan oppa nya itu, dia tahu kalau oppanya tidak akan tega melaporkan semuanya kepada orang tua mereka. Hyuk oppa terlalu menyayanginya, walaupun kadang-kadang Hyo membantah perkataannya. Hidup terpisah dari orang tua mereka yang berada di Jepang membuat Hyuk sangat menjaga dongsaeng satu-satunya itu. Membantunya dalam segala hal walaupuun Hyo tidak pernah memintanya. HyoSung mendorong pintu kamarnya dengan kaki dan meletakkan kardus yang dibawanya diatas kasurnya. Ia membuka kardus itu. Setumpuk benang wool yang terlihat sangat lembut dan hangat serta alat-alat merajut. Ia mengeluarkannya dari kardus dan meletakkannya di atas kasur. Lalu ia juga mengeluarkan buku panduan merajut yang dibelinya sepulang bimbel tadi dan melihat-lihat isinya. “Aish, jinjja! Kenapa petunjuknya sulit sekali sih” gerutunya. “ ya! Cho KyuHyun, apa yang kau lakukan hingga bisa membuatku melakukan ini semua, hah?!” katanya kesal dan mulai merajut mengikuti buku panduan yang dibelinya.
-000-
3 bulan sudah semenjak hari ulang tahun Kyuhyun, mereka belum pernah bertemu lagi. Kadang-kadang saat Kyuhyun mempunyai waktu, HyoSung sedang ada kegiatan. Begitupun sebaliknya, saat HyoSung punya waktu luang, Kyuhyun mempunyai kegiatan. Telepon atau sms pun bisa dihitung selama sebulan ini. HyoSung sangat sibuk mempersiapkan dirinya untuk menempuh ujian Negara dan ujian masuk universitas. Ia ingin sekali bisa seperti Kyuhyun, diterima di universitas nomor satu di Korea Selatan, Universitas of Seoul. Sejujurnya ia merasa sangat bangga mempunyai namjachingu seperti KyuHyun. Pintar matematika tapi juga gamers expert, suaranya bagus, tinggi, ganteng, baik daaan sangat sabar. Ya, Kyuhyun sangat sabar menghadapi HyoSung yang childish. Ia merasa tidak cukup baik untuk Kyuhyun. Dan itu adalah alasan terbesar mengapa HyoSung jarang mengajaknya bertemu duluan, mengesankan bahwa dirinya adalah orang yang sangat tidak perduli terhadap hubungan mereka. Padahal dilubuk hati HyoSung yang paling dalam, rasa sayangnya terhadap Kyuhyun sama besarnya seperti Kyuhyun terhadapnya hanya saja HyoSung tidak pernah menunjukkannya.
‘Press the reset press press the reset’
HyoSung meletakkan rajutannya yang baru setengah jadi. Semuanya dikarenakan setiap kali salah merajut, ia lalu membuka semuanya dan mengulangnya dari awal. Ia meraih ponselnya di meja belajar. Sebuah sms,
From: nae KyuHyun
“Hyo-ah.. bisakah kita bertemu hari ini? Bogoshipo. Apa kau punya waktu luang?”
HyoSung tersenyum membaca sms nya, tetapi ia tidak langsung membalasnya. Ia meletakkan ponselnya kembali dan berfikir sejenak. “ nado bogoshipo oppa” ucapnya pelan nyaris berbisik. “tapi aku harus menyelesaikan rajutanku sebelum ujian Negara yang tinggal sebulan lagi.” Lanjutnya lagi. Ia lalu mengetik sms,
To: nae KyuHyun
“mianhae oppa, aku sedang ada kerjaan. Lain kali saja ya,”
From: nae KyuHyun
“ aah, ara~ gwanchana.”
To: nae KyuHyun
“ gomawo oppa. “
-000-
Kyuhyun POV…
aku berdiri didepan jendela kamarku, menunggu sms balasan dari HyoSung.
From: nae HyoSung
“mianhae oppa, aku sedang ada kerjaan. Lain kali saja ya,”
Aku tersenyum miris membacanya. Sudah kuduga ia akan menolak untuk bertemu denganku. ‘Ada apa sih sebenarnya? Kenapa ia seperti menghindari ku? Apa salahku padanya?’ Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Aku menjatuhkan tubuhku ke kasur. Membalas sms nya.
To : nae HyoSung
“ aah, ara~ gwanchana.”
From : nae HyoSung
“ gomawo oppa. “
Aku menghela nafas dalam. Aku sangat merindukannya, amat sangat merindukannya. 3 bulan tidak bertemu dengan pasangan kita, apa itu hal yang wajar? Sedangkan kami tinggal di kota yang sama. Rumah kami juga hanya berjarak 1 jam. ‘Apa dia tidak merindukanku? Apa ia sudah tak ingin bersamaku?’ aku terus bertanya pada diriku. Aku butuh jawaban untuk semua ini. Aku sudah mulai lelah dengan semua ini. Aku memejamkan mataku mencoba mengusir semua pertanyaan yang meluap-luap di kepalaku, tapi nihil. Aku mengambil ponselku berniat menghubungi salah satu hyungku dan mengajaknya bertemu. Kulihat wallpaper ponselku, foto ini diambil pada saat kami terakhir bertemu 4 bulan yang lalu.
Rasanya aku ingin sekali berteriak dan memeluknya. “aarrgkhh!!!” aku menggeram. Segera ku lihat recent call dan mendial ulang nomor itu.
“yeoboseo, hankyung hyung.. ada waktu?”
“ aah hyun-ah, wae geudae? Aku baru saja ingin keluar rumah”
“ ani~ aku hanya ingin minum kopi bersama, tapi kalau kau ada acara, yasudah.”
“ani~ aku bisa kok, kutunggu kau ditempat biasa ya”
“oo.. ara~ “
Aku bangun dari tempat tidur dan bergegas pergi.
-000-
Hankyung POV….
Aku datang lebih dulu ke café , aku memilih tempat duduk dibelakang, dekat jendela. Aku memesan segelas mochiato hangat dan satu slice tiramissu cake. Tak lama Kyuhyun datang, aku melambaikan tangan memberi isyarat tempat dudukku. Penampilannya sangat berantakan, wajahnya kusam, sangat tidak bersemangat. Dan aku sudah bisa menebak apa penyebab semuanya.
“mianhae hyung, tadi agak macet. Sudah lama kah?” tanyanya.
“gwanchana, aku juga baru datang kok. Aku sudah memesan segelas mochiato dan tiramisu cake, kau mau apa?” tawarku sambil memanggil pelayan.
“frozen cappucinno satu” jawabnya cepat.
“ya! Kau ini, udara diluar sangat dingin, kau malah memesan minuman yang dingin juga. Nanti kau bisa sakit tau.” Omelku. Aneh sekali anak ini, otaknya sedang konslet sepertinya.
“tidak akan hyung, kepalaku sudah sangat panas. Aku butuh minuman dingin untuk menetralkannya” jawabnya asal.
Pelayanpun pergi menyiapkan minuman kami. Pesananku datang lebih dulu, dan kemudian disusul oleh pesanannya.
Aku meminum mochiatoku, “ berceritalah kepadaku hyun-ah. Aku siap mendengarkanmu.” Kataku to the point.
“mworago? Cerita? Apa yang mau kuceritakan? Aku tidak punya cerita hyung.” Kilahnya sambil membuang pandangannya keluar jendela. Aku dengan jelas bisa melihat sorot matanya yang menunjukkan kerinduan, kekecewaan pada seseorang.
“jangan coba-coba membohongiku hyun-ah. Aku sudah lama mengenalmu. Dan aku terlalu hafal perubahan expresimu.”
“hhh~” hembusan nafasnya berat sekali, apa lagi sih yang terjadi diantara dirinya dan HyoSung. Aku memang tidak pernah memaksa kyuhyun untuk bercerita padaku. Aku cukup tau diri untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Dan biasanya dia yang akan mengajakku bertemu jika sedang suntuk. Tapi kali ini sepertinya ia terlihat sangat lelah. Bukan secara fisik, tapi hati dan perasaannya.
“aku.. mulai merasa lelah hyung… menjalani hubungan ini.. hhhh” ia memulai ceritanya dengan terbata-bata. Aku mendengarkannya dengan seksama.
“ aku masih menyayanginya, tapi aku merasa dia menjauhiku. aku paham kalau dia sibuk mempersiapkan diri untuk menempuh serangkaian ujian dalam waktu dekat ini. Tapi..” ucapannya tiba-tiba terhenti.
“tapi apa hyun-ah?” aku memajukan badanku dan mendengarkan lebih seksama tiap kata yang keluar dari mulutnya.
“apakah meluangkan waktu sekitar 2 jam, ah tidak 1 jam saja untuk menemuiku begitu sulit? Sebegitu sibuknyakah ia belajar? Padahal setauku dia bukan orang yang betah belajar hingga berjam-jam.” Ia terlihat sangat kacau, jelas sekali kalau ia terluka, merasa diacuhkan oleh orang yang disayanginya.
“aku merindukannya hyung, aku hanya ingin ia meluangkan waktunya sedikiiiit saja untuk menemuiku.” Suaranya bergetar, kulihat matanya mulai memerah. Tapi ia segera menengadahkan kepalanya keatas dan bersender pada bangku.
“hyun-ah, aku amat sangat mengerti perasaanmu. Aku tidak menyangka kau sebegitu menyayanginya. Aku sangat salut kepadamu. Mampu bertahan selama setahun ini. Memang terkadang dalam sebuah hubungan, ada masa dimana seseorang merasa rasa sayangnya hanya bertepuk sebelah tangan. Atau bisa dibilang masa jenuh. Aku bukannya ingin memperburuk keadaan,tetapi itu wajar, dan aku rasa kalau kalian bisa melewatinya rasa sayang kalian satu sama lain akan semakin kuat. Tetapi aku bukan HyoSung , aku tidak bisa menjawab semuanya, aku hanya bisa mendengarkan, memberi saran dan mendoakan yang terbaik bagi kalian berdua. Aku harap kalian bisa membicarakan semuanya secara dewasa, tidak gegabah. Ya paling tidak setelah ia menyelesaikan ujiannya, agar tidak menganggunya. Kau tidak mau bukan, jika karena kau dia menjadi tidak focus dengan ujiannya. Aku minta kau bersabar sebentar lagi. Aku tahu kau orang yang kuat hyun-ah. Apapun keputusannya nanti, aku pasti mendukungmu.”
Ia bangun dari sandarannya, “arasso hyung, gomawoyo.. aku merasa lebih baik sekarang. Aku pasti akan melakukan semua saran darimu. Aku akan menenangkan fikiranku sampai waktunya tiba.” Katanya yakin.
Aku menghela nafas lega, “ baguslah kalau begitu. Sebagai namja, kita harus bisa mengambil keputusan dengan benar dan tidak plin-plan.”
-000-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar