Seperti hari-hari sebelumnya, Nirra berangkat ke kampus membawa si jazzy kesayangannya. Ia membuka pagar depan dan sekilas melihat rumah didepannya. Ia menyalakan mesin mobilnya.
“tumben ga telat lu?” ejek Iyan seraya memasukkan gitarnya kedalam mobil.
“elu yak, pagi-pagi udah ngajakin gue ribut.” Semprot Nirra.
“haduu, ade gue paling manis kalo lagi marah.” Lanjut Iyan lagi sambil mencolek dagu Nirra.
“nyeehh… berangkat gih sana.” Kata Nirra sambil mendorong abangnya agar cepat masuk kedalam mobilnya.
“ahahhaa, yaudah, gue berangkat dulu ya.” Pamit Iyan.
Nirra melambaikan tangannya kepada abangnya lalu berjalan memasuki mobil. Didalam, ia terus memperhatikan rumah yang pagarnya masih tertutup rapat.
“come on, open the gate, im so curious to see who’s own the house now?” ucapnya penasaran sambil menopang kepalanya di setir mobil.
Ia memperhatikan jam, ‘masih jam 07.30, masih ada waktu sebentar’ gumamnya.
Nirra sengaja bangun pagi-pagi untuk melihat si Empunya rumah baru didepannya. Dia terlalu penasaran untuk membuktikan mimpinya akan jadi kenyataan atau sekedar bunga tidur saja. Dan disinilah dia sekarang, didalam mobil menunggu si pemilik rumah baru keluar. Tak lama, pintu pagar pun dibuka,ternyata seorang laki-laki paruh baya –dari pakaiannya sepertinya tukang kebunnya- yang membuka , si pemilik rumah baru saja menaiki motor Kawasaki Ninja 250 cc-nya yang berwarna biru sama seperti jazz-nya, matching banget sama helmnya yang juga biru.
“cowok?!!” teriaknya kaget. Sama seperti dimimpinya.
“yah, mana keliatan kalo pake helm.” Lanjutnya.
Si pengendara motor itu menyalakan mesin motornya dan tampak berbicara dengan si tukang kebun. Setelah selesai, si pengendara motor melihat kearah mobil Nirra. ia sadar kalau sedari tadi ada yang memperhatikannya dari dalam mobil didepan. Sedangkan Nirra tidak terlalu sadar karna si pengendara motor hanya membuka kaca helmnya, bukan seluruh helmnya.Si pengendara motor tersenyum di balik helm. Ia menutup kaca helm dan meninggalkan rumahnya.
“yah, ga seru ah, ga keliatan mukanya.” Nirra sedikit kecewa karena ia gagal melihat wajah cowok itu. Hpnya tiba-tiba berbunyi, ‘Sina (work) calling’,
“ Kenapa Sin?”
“ yoboseo, nirra-ssi eodiissneungeoya?” tanya Sina dalam bahasa Korea.
“ baru mau jalan gue. wae geulae?” Nirra sedikit mengerti bahasa korea karena Sina sering berbicara dalam bahasa korea dan Sina pernah mengajarinya dan Hae.
“amugeosdo. josim nirra-ssi.” Suara Sina diseberang terdengar bersemangat.
“ne, naneun geos-ibnida.” Ucap Nirra yakin. Ia lalu menjalankan Jazz-nya menuju kampus.
Kampus B, fakultas bahasa, Universitas Negeri Indonesia.
“Nirra! Nirr!” panggil Hae setengah teriak. Dengan posisi duduk mereka yang bersebelahan seharusnya Hae tidak perlu teriak untuk memanggil Nirra, tapi dari tadi Hae memperhatikan Nirra hanya mencorat-coret kertas di bindernya bukan mencatat penjelasan dari si Dosen.
“aduuh Hae, nggak pake teriak kali.” Respon Nirra kesal sambil menutup telinganya sebelah.
“nyeeh, lagian di panggil pelan nggak jawab.” Balasnya nggak kalah kesal. “mikirin siapa si?” tanya Hae penasaran.
“Narhae.” Jawab Nirra asal sambil menutup bindernya.
“konslet lu.” Respon Hae sambil menjitak kepala Nirra.
Keduanya pun tertawa dan bercanda di tengah penjelasan si dosen yang lebih memilih melanjutkan penjelasannya daripada menegur kedua mahasiswanya, dari main sikut-sikutan, jitak-jitakan -kepala Nirra diapit oleh lengan Hae agar Hae bisa menjitaknya dengan leluasa- sampai jambak-jambakan rambut. Dan tak lama dosen pun menutup pertemuan pagi ini dengan sebuah tugas yang harus di Email-kan paling lambat 2 hari setelah di berikan.
“elaah, mau New Year aja pake ngasi tugas segala dah. Rese banget tuh dosen.” Gerutu Nirra sambil merapikan rambutnya yang di acak-acak oleh Hae pada saat mereka bercanda tadi.
“biarin, biar mahasiswanya pada pinter, khususnya elu.” Ledek Hae sambil menjulurkan lidahnya dan berlari keluar dari kelas.
“Shoot! Narhaeeeee!!” teriaknya dari dalam kelas.
*--*
Hae, meeting Kfest nya dimajuin jd skrg, nnti plg duluan aja ya.
“Sms dari siapa?” tanya Nirra sambil menyuap gado-gado punya Hae kemulutnya.
“dari Sina, nih.” Hae menunjukan sms dari Sina dan merebut sendok yang ada di tangan Nirra. Setelah membaca sms, Nirra kembali merebut sendoknya lagi. Ia sedang malas untuk makan, makanya ia lebih memilih merecoki Hae dan semuanya terhenti ketika HP Nirra berbunyi.
“de, jemput gue di kampus ya, mobil gue di bengkel, ngambek tiba-tiba tuh mobil.” Belum sempat Nirra mengucap ‘halo’, bang Iyan sudah nyerocos dan membuat Nirra hampir keselek. Ia meneguk air mineralnya.
“hah? Emang ga bisa bareng temen elu?” ia menoleh kearah Hae yang sedang menghabiskan makanannya.
“males gue, pada mau jalan dulu soalnya.” Suara Iyan terdengar kesal.
“iya iya, gue baru mau jalan nih, tunggu aja ya.” Nirra mengiyakan sambil mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dan menyelipkannya di bawah piring gado-gado Hae. ia memberi isyarat kepada Hae untuk pergi keparkiran.
“bang, uangnya di bawah piring ya.” Teriak Hae kepada si penjual. Ia lalu berjalan mengikuti Nirra.
“ok, jangan lama-lama ya.” Iyan menyudahi pembicaraannya.
Nirra menutup HP nya dan mengeluarkan kunci mobil.” Mobil bang Iyan masuk bengkel deket kampusnya. Gue disuruh jemput dia. Lu mau kemana?.”
Hae masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya. Ia membuka kaca mobil, “gampang lah, belom tau juga mau kemana. Ya, udah be careful ya.”
“I will, kalau ada apa-apa call me ya.” Nirra masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya. Ia membuka kaca mobil dan melambaikan tangan kepada Hae “duluan ya, bye.”
Sebuah motor melintas didepan mobil Nirra, di kampusnya walaupun tempat parkir mobil dan motor lumayan jauh tapi jalan keluar dari kampusnya hanya satu, yaitu dekat parkiran mobil. Tetapi jalurnya terpisah, motor di kiri dan mobil di kanan. Motor yang sama seperti yang dilihatnya pagi tadi sebelum berangkat ke kampus.’bukannya itu motor yg tdi pagi ya? Helm nya juga’ batinnya. ia memperhatikan si pengendara motor yang sedang membayar parkir.’kok sama persis sih?’ batinnya lagi. Motor itu berlalu meninggalkan kampus, tetapi Nirra masih memperhatikannya sampai motor itu benar-benar hilang dari pandangannya. Suara ketukan di kaca mobil membuyarkan fikirannya. Ia melihat Hae yang berdiri diluar, lalu ia menurunkan kaca mobilnya.” Are you okay?” tanya Hae. “ kok nggak jalan si? Udah pada ngantri tuh yang mau keluar.” Lanjutnya lagi.
Nirra tersenyum dan menggelengkan kepalanya.” I’m okay”. Ucapnya meyakinkan.” Gue duluan ya.” Ia menaikan kaca mobilnya dan menjalankan mobil.
Hae melambaikan tangan dan kembali ke mobilnya. Ia mengawasi mobil Nirra sampai benar-benar hilang dari pandangannya.’aneh deh hari ini lu Nirr, tadi di kelas, sekarang di parkiran’ batinnya. tapi ia tak ingin bertanya lebih jauh, takut Nirra merasa tidak nyaman, jadi ia menunggu Nirra yang bercerita langsung kepadanya.
*--*
Korean faculty meeting room, 2.30 pm
“jeoseumnida, jilmun?” Teukkie melihat berkeliling kearah juniornya. karena tidak ada tanda-tanda bahwa para junior ingin bertanya, maka Teukkie pun mengakhiri meetingnya.”cukup sekian untuk meeting kali ini, kamsahamnida.” Ucapnya sambil membungkukkan badan.
“cheonmaneyo, sunbae. Annyeong.” Ucap para junior berbarengan.
Sina merapikan notesnya dan memasukkan kedalam tas,ia berjalan keluar dari meeting room sambil sesekali menyapa para senior dan junior. Sesampainya di tempat parkir, ponselnya berdering. ia merogoh ponselnya yang berada di kantong celana jeansnya, ‘nomor siapa nih’ batinnya.
Sina: “hallo,”
Andrew: “ya, Sina-ssi. Ini gue Andrew. Lu lagi dimana?”
Sina: ( ia cukup terkejut bahwa Andrew yang menghubunginya duluan.)
” Oh, Andrew. Gue baru aja selesai meeting di kampus. Ada apa?”
Andrew: “anio, Cuma pengen ngobrol-ngobrol aja, ada waktu?”
Sina: “mwo? Ngobrol sama gue?”
Andrew: “ahaha.”(Andrew tertawa mendengarnya)
“iyalah, gue kan telfonnya ke nomer lu, masa gue mau ngomong ama temen lu.”
Sina: “ahahaaa, iya juga ya, mau ketemu dimana emangnya?’
Andrew: “ J.Co Citos? 3 pm?”
Sina: “ne, arayo”
Andrew: ”jeoseumnida, to mannayo.”
Setelah koneksi hp terputus, Sina tak henti-hentinya tersenyum. Ia masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju tempat yang telah disepakatinya dengan Andrew.
*--*
Bengkel Simple, sebelah kampus IKJ, waktu yang sama..
“baaangg, masih lama apa?” rengek Nirra kepada abangnya, ia sudah menghabiskan botol kedua air mineral 600 ml nya dikarenakan cuaca hari ini sangatlah panas dan ia sudah bosan sekali menunggu di dalam mobil. Saat di telfon tadi abangnya hanya minta di jemput, tetapi nyatanya ia harus menemani abangnya di bengkel sampai si montir selesai membetulkan mobilnya. Dan bukan bang Iyan namanya kalau tidak bisa membujuk Nirra. Aryand tersenyum melihat adiknya yang sudah uring-uringan gara-gara di suruh nunggu di bengkel. Ia berjalan menghampiri Nirra yang berada di dalam mobil.
“bentar lagi selesai kok, sabar ya” katanya sambil mengusap kepala Nirra.
“katanya minta di temenin, tapi kok gue udah jamuran ya dari tadi sendirian di mobil?” sindir Nirra.
“hah? Jorok deh, masa jamuran sih, ih ga kenal ah.” Canda Iyan.
“nyeeehhh, gue tuh nyindir elu kali.”
“ahhahaa, iyaa, kalo gue ga ngelyatin, nanti dianya asal-asalan ngebenerinnya, kan gue juga jadi tau dimana rusaknya, padahal gue kan hati-hati banget make mobilnya.” Iyan menjelaskan dengan sabar. Nirra hanya bisa menghela nafas, ‘bener juga ya, gue kok oon banget si’ batinnya. setelah melihat Nirra memahami penjelasannya, ia kembali mengawasi si montir bekerja.
15 menit kemudian
“De, de, bangun, pulang yuk, udah selesai nih.” Aryand membangunkan Nirra yang tertidur di mobil.
Nirra terbangun dan menguap, “hoaahhmm, udah selesai bang?”
“udah, pulang yuk, bisa nyetir kan?”
“bisa kok, tenang aja.” Ucapnya sambil mengusap mata.
“yaudah,jangan ngantuk ya, lu jalan duluan.”
“semangaad Nirr, ga boleh ngantuk!!” teriak Nirra kepada dirinya sendiri kemudian ia menyalakan mesin dan berjalan pulang diikuti abangnya. Setelah setengah jam perjalanan dari bengkel ke komplek rumahnya, akhirnya sampai juga ia di depan rumah berpagar putih dan bercat biru cerah (kalau ini pasti nirra yang mengusulkan). Ia turun dan membuka pintu pagar, lalu memasukkan mobilnya kedalam garasi disusul dengan mobil Aryand. Nirra buru-buru masuk kedalam rumah, “kunci ya pagernya bang, gue pengen ke toilet.” Teriaknya kepada Aryand.
“jaah, ga usah pake teriak kali ke toiletnya, ga enak banget didengarnya.” Protes Aryand sambil berjalan kearah pagar. Tiba-tiba pagar rumah depan terbuka, dan keluarlah si pemilik rumah sambil membawa sekarung penuh sampah daun kering. Sepertinya habis kerja bakti membersihkan halaman karena dari tampangnya sangat kelelahan.’oh, ini yang punya rumah’ batin Aryand. Si pemilik rumah melihat Aryand dan tersenyum.
“kayanya abis kerja bakti nih,” tegur Aryand duluan.
“ahaha, iya nih, udah lama kosong kayanya ni rumah. Rumput di taman belakangnya udah tinggi-tinggi banget ” Katanya sambil memperhatikan rumahnya, ia menaruh sampahnya di depan pagar rumahnya, lalu berjalan menghampiri Aryand. ia melepas sarung tangannya “gue Argie, baru pindah kemaren sore gue.” Ia mengulurkan tangan kearah Aryand, mengajak berkenalan.
Aryand mengerut keningnya mendengar bahasa Indonesia Argie yang terdengar agak aneh.
“gue Aryand, tapi lu bisa panggil gue Iyan, sebenernya panggilan dari ade gue si. Ahhaaa, pindah darimana ?”
Argie mengusap keningnya yang berkeringat.” Di hotel.”
Aryand mengerutkan keningnya lagi mendengar jawaban singkat Argie, “ maksudnya?”
“gue pindah dari Seoul seminggu yang lalu, baru 6 bulan disana gue udah ga betah, kangen suasana Indonesia, padahal keluarga gue disana semua, makanya setelah selesai semester 1, gue langsung pindah. Nyari rumah yang ga terlalu jauh sama kampus, so, here I am.” Jelasnya sambil mengipas-ngipas dengan sarung tangannya.
“ahaha, bukannya seharusnya betah ya? Disana kan dingin plus ga macet kaya di Jakarta gini,” Aryand tertawa mendengar alasan Argie.
"wait, setau gue kampus yang paling deket dari sini cuma UNI, lu pindah kesitu? fakultas apa?" lanjut Aryand.
"iya.pend. matematika" jawabnya mantap.
Aryand menepuk pundak Argie,“whoa, a hard one, isn't it? by the way, welcome back kalo gitu, kalo perlu bantuan tinggal kerumah aja.”
Argie pun tertawa mendengar ucapan Aryand, “Thanks ya yan, very helpfull buat gue yang tinggal sendirian, ahhaaa.”
Mereka lalu mengobrol banyak hal dan ternyata mereka punya banyak kesamaan,dari segi hobi misalnya, mereka sama-sama suka games dan nyanyi. Tapi Aryand sudah jarang bermain game karena selalu diprotes mama dan Nirra. Dari atas Nirra melihat abangnya sedang berbicara dengan seseorang.’siapa tuh? Jangan-jangan orang baru itu lagi! ’ batinnya panik. Ia terus memperhatikan abangnya dan lawan bicara abangnya. Sedangkan dari bawah Argie merasa ada yang memperhatikannya dari jendela kamar atas rumah Aryand, lalu ia menoleh keatas dan mendapati sepasang mata tengah memperhatikannya dengan lekat. Ia tersenyum dan menganggukkan kepala, memberi isyarat perkenalan kemudian kembali fokus mengobrol dengan Aryand. Nirra pun gelagapan gara-gara ketahuan sedang memperhatikan orang itu. Ia buru-buru menutup gordennya dan berbalik menuju kasurnya.
“whoaaa!!” ia tersandung karpet teddynya dan jatuh sukses mencium karpet. ”shoot! kejadian juga ni mimpi, argkkh! Nightmare!!’’. Teriaknya.
*--*
JCo, Cilandak Town Square, 3.05 pm
Sina berjalan terburu-buru masuk kedalam mall, ia melirik jam tangannya, ‘aduh, telat 5 menit lagi gue’ gumamnya. Perjalanan ke citos yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 20 menit, harus molor menjadi 35 menit dikarenakan macetnya jalanan. Sesampainya di JCo, ia celingukan mencari Andrew, untuk sekarang ini ia lebih suka kalau Andrew datang lebih telat darinya, jadinya kesan ‘jam karet’ ga ada didirinya. Ini kan pertama kalinya ketemu Andrew di luar kampus, walaupun kemarin waktu nemenin ibu belanja di Lotte ketemu juga, tapi itu kan nggak sengaja, jadi ga dihitung. Tapi sepertinya harapan Sina nggak terkabul karna dari jauh ia melihat seseorang yang duduk didekat jendela melambai kearahnya. Sina melengos pelan dan tersenyum paksa. Ia berjalan menghampiri Andrew.
“heii, sorry gue telat. Macet banget tadi, udah lama nunggu?”
Andrew tersenyum melihat Sina,” ga papa lagi, cuma telat 5 menit doang kok, gue juga baru dateng.”
Sina mencoba untuk tidak grogi melihat Andrew yang tersenyum kepadanya. Besar banget pengaruh Andrew kepadanya, Ia melihat meja didepannya yang masih kosong, ‘kayanya emang baru dateng deh si Andrew’ batinnya. “ohh, baguslah kalo gitu, ehhe.”
Andrew memberikan menu kepada Sina, “ mau pesen apa Na?. tanyanya sambil melihat-lihat menu.
Sina menoleh kearah Andrew, menajamkan pendengarannya, tadi Andrew memanggilnya apa?
“Na? mau pesen apa?” ulang Andrew lagi karena yang ditanya belum menjawab. Matanya tetap melihat kearah menu.
‘Na? kok kayanya kalo dia yang manggil gitu enak banget didengernya’ batinnya sambil tersenyum. “eh iya, Caffe Avocado sama Tiramissu aja.”
Kemudian Andrew memanggil waiter, “ caffe avocado nya satu, tiramisu donnut nya 2, sama cappuccino opera nya satu ya mas.” Pesannya kepada si waiter.
Si waiter mencatatnya dengan cepat, “ ditunggu 15 menit ya mas. Terimakasih.”
Setelah si waiter pergi Andrew tersenyum lagi kepada Sina,” tadi lu bilang baru abis meeting di kampus pas gue telfon, meeting apa?” tanyanya.
Sina setengah mati memerintahkan otaknya agar tetap relaks melihat senyum Andrew.” Oh, meeting buat Kfest tahun depan, Januari sih.” Jawabnya sekasual mungkin.
“oh ya? Lu committee-nya? Keren donk.” Pujinya tulus.
Sina senang banget Andrew muji dia, “ ahhaa, iyaa, diajakin join sama Teukkie sunbae. Gue seneng banget bisa join, apalagi gue kan baru semester 2.” Jawabnya bangga.
Andrew melihat Sina kaget, “mwo? Teukkie hyung? Dia sepupu gue tau!!” Jelasnya kepada Sina.
“ omona! Jeongmal? Ahahaaa. What a surprise!” Sina terkejut mendengar semuanya. Pantes aja Teukkie sunbae ganteng, sepupunya aja gantengnya minta ampun.
“jadi committee bagian apa emang?”
“bagian penjab. Stand, sendirian lagi, lumayan repot pastinya. aahha.”
“wah, pasti seru tuh, boleh gue bantu?” tanyanya sungguh-sungguh.
“eh, serius lu? emangnya bisa?” Sina bingung mendengar pertanyaan Andrew.
“serius lah, nanti gue coba ngomong sama hyung, pasti bisa.” Jawab Andrew yakin.
Waiter pun datang membawakan pesanan mereka, “ selamat menikmati” katanya. Andrew mengucapkan terimakasih kepada si waiter.
“yuk dimakan Na,” katanya sambil meminum cappuccino operanya.
“ne, selamat makan” Sina mulai menggigit donatnya,’kenapa tiap denger si Andrew manggil gue “Na”, gue ngerasa nyaman banget ya,’ batinnya sambil melihat keluar jendela.
“rumah lu emang dimana Na?” tanya Andrew sambil menyuapkan potongan donat terakhirnya.
“Depok Mutiara Buana, elu?”
“ooh, berarti nggak terlalu jauh dari kampus donk? Gue di Pondok Indah Residence.”
“ya lumayanlah, stengah jam ke kampus, berapa bersaudara lu?”
“gue cuma berdua ama ade gue, cewek, baru kelas 2 SMU. Elu?”
“gue juga cuma berdua ama abang gue, tapi dia udah kerja jadi software analyze.”
Dering ponsel Andrew menginterupsi pembicaraan mereka, “bentar ya Na,” katanya pada Sina.
Sina memperhatikan Andrew yang sedang menerima telefon,’siapa yang telfon ya? Kok serius amat si kayanya.’ Batinnya sambil meminum caffe avocadonya. Hari ini Andrew kelihatan ganteng banget -kemaren-kemaren juga sih-, dengan long sleeve shirt kotak-kotak warna krem dan coklat yang di gulung sampai sikunya dan levi’s jeans hitam. Andrew tersenyum kearah Sina dan menjauhkan ponselnya,” bentar ya Na” ucapnya dengan ekspresi tidak enak. “iya, tenang aja.” ucap Sina santai. Sina melihat berkeliling, ia melihat beberapa cewek yang sedang antri di counter melihat kearah mejanya dan berbisik-bisik. Ia melihat arah pandang cewek-cewek itu, ‘ooh, ngeliatin Andrew toh, ahhaa’ batinnya sambil tertawa. Ia menikmati pandangan sirik cewek-cewek itu, ‘pasti pada envy deh’ gumamnya.
“kenapa Na?” tanya Andrew yang baru saja selesai menerima telefon.
“eh, gapapa kok, ada problem ya? Kok kyaknya serius banget ngomongnya?” jawabnya kikuk,
“oh, nggak kok, itu ade gue ijin mau nginep di rumah temennya.” Jelasnya. “ udah selesai makannya? Ada mau jalan kemana lagi?”
“ooh, udah kok, kayanya nggak ada deh, kenapa emang? Elu ada urusan lagi ya?” tanya Sina sedikit kecewa
“emm, iya niih, gue harus ke Lotte Gandaria, pulang sekarang gapapa?” Andrew merasa tidak enak sama Sina.
“owkay, gapapa kok, gue toilet dulu ya.” Ia berjalan kearah toilet.
“gue tunggu didepan ya.”
Andrew membayar bill nya dan membawa map Sina keluar dari J.Co. Sina menghampiri Andrew yang berdiri di depan lalu mereka berjalan kearah parkiran.
“ gue anter sampe rumah ya,” ucap Andrew tiba-tiba.
“eh, nggak usah, elu kan masih ada urusan lagi, lagipula gue bawa mobil kok” tolak Sina halus.
“gue tau kok, tapi gue pengen nganterin elu dulu baru ke Lotte. Please, Jangan nolak ya.” Mohon Andrew.
“mm, Yaudah terserah elu aja.” Akhirnya Sina mengiyakan.
Rupanya tempat parkir mobil mereka hanya berselisih 3 mobil, kemudian Sina berjalan duluan diikuti mobil Andrew. Dijalan Sina berulang kali melihat mobil Andrew lewat kaca spion tengah, ‘ gila, beneran nganterin kali dia’ ucapnya tidak percaya. Dan saat masuk komplek perumahan Sina pun mobil Andrew masih tetap berada di belakang mobilnya. Sina mengklakson rumahnya, kemudian si mbak membukakan gerbang. Sina berjalan menghampiri mobil Andrew setelah memasukkan mobilnya ke garasi. Andrew keluar dari dalam mobil.
“oh, ini rumah lu, gampang diinget rutenya. Ahahha, yaudah gue jalan dulu ya, makasih buat hari ini ya Na,” Pamit Andrew sambil melambaikan tangannya ke Sina (pastinya sambil tersenyum).
“ iya, sama-sama, josim Andrew –ssi.” Kata Sina sambil melambaikan tangan juga.
“ne, naneun geos-ibnida.” Kata Andrew sambil masuk kedalam mobil.
Sina menutup gerbang setelah Andrew pergi, baru selangkah ia berbalik tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, ia membuka gerbang lagi dan melihat Andrew yang berdiri di depannya.
“Na, besok gue masih bisa ngajak lu jalan lagi?” Andrew bertanya kepada Sina yang masih bingung melihatnya.
Sina nggak bisa menyembunyikan senyumnya melihat Andrew yang balik lagi kerumahnya hanya untuk menyanyakan hal yang seharusnya bisa dilakukan via telfon atau sms.
“iya, pasti.” Jawabnya mantap.
Andrew lalu pamit lagi (kali ini beneran) kepada Sina. Sina pun masuk kedalam rumah dengan hati berbunga-bunga. ‘ what a nice day’ ucapnya.
Sedangkan di mobil, Andrew men-dial Teukkie, sepupunya.
Andrew : “yoboseo, hyung?”
Teukkie: “wae?”
Andrew : “kekurangan panitia buat Kfest nggak?” tanya Andrew to the point.
Teukkie :” mm, sebenernya nggak si, tapi panitia penjab. Stand memang membutuhkan tenaga laki-laki,karena pasti akan sibuk sekali.sedangkan yang ada baru penjab. perempuan.”
Andrew :”owkay, I’m in.”
Teukkie :”mwo? Jeongmal?” teukkie pun bingung kenapa Andrew tiba-tiba mau ikut menjadi panitia padahal sebelumnya tidak pernah mau.
Andrew :”I’m serious hyung, okay, bye.”
Andrew memutus koneksi telefon dan meninggalkan Teukkie yang masih bertanya-tanya akan pernyataan Andrew yang tiba-tiba. Sedangkan di dalam mobil, Andrew menyalakan CD Playernya dan bersenandung mengikuti lagu yang diputar.’ That’s will gonna be a nice day’ batinnya.
*--*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar