Search..

Minggu, 18 Maret 2012

[SungHyun Journey]



Title : HeartQuake

Length : Part 1/?

Genre : Romance

Cast:
Lee Hyosung
Cho Kyuhyun
And other cast

SungHyun ♥

11th jan 2012, Hyosung’s apartment..

Author POV..

“Hoon-ah.. eotthe?? Mereka menang tidak?”

Ini sudah yang kesekian kalinya Hyosung bertanya kepada Hyehoon, sahabatnya, yang sekarang sedang berada di apartemennya untuk sama-sama mengikuti perkembangan GDA atau Golden Disk Award 2012 yang dilaksanakan di Osaka, Jepang.

Hyosung memaksa Hyehoon ke apartemennya karena ia tidak ingin ketinggalan berita GDA, sedangkan ia besok ada ujian semester, jadilah Hyehoon yang stand by didepan iPad nya mengikuti perkembangan GDA melalui jejaring sosial dan Hyosung berkutat dengan materi ujiannya.

Hyehoon melempar bantal sofa kearah Hyosung, “ Ya! Sudah belajar saja sana, nanti aku pasti memberitahumu. Mungkin 2 awards lagi baru akan diumumkan pemenang Disk Daesang nya.” Omelnya.

“aish—“ Hyosung mendesis sambil menutup muka dengan telapak tangannya. Bagaimana bisa ia berkonsentrasi ditengah-tengah keadaan seperti ini. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh ELF dan fans Kpop diseluruh dunia. hari yang diharapkan menjadi sejarah kenangan terindah bagi salah satu fandom kpop terbesar, ELF. Semua usaha dan perjuangan yang dilakukan akan terbalas atau malah terkhianati di hari ini.

Sebenarnya mereka ingin ikut pergi ke Osaka seperti Jongjin, tetapi apa daya ? pendidikan lebih penting dibandingkan yang lainnya. Orang tua mereka juga tidak mungkin akan mengijinkan mereka pergi. Hah, memang takdir menjadi anak bungsu, semua hal seakan di proteksi walaupun mereka sudah cukup umur untuk menghadapinya.

Pada saat yang bersamaan juga, Heechul yang sedang menjalani wajib militernya, sedang berada di sebuah acara dan membacakan puisi . semua orang sangat merindukannya. Rambutnya cepat sekali panjang. Padahal terakir kali melihatnya rambutnya masih botak!

“ ya ya ya Sungie! Palli palli, ini akan diumumkan siapa pemenangnya!” Hyehoon terus merefresh halaman web nya. Hyosung berlari duduk disamping Hyehoon, mereka berpegangan tangan dengan satu tangan dan tangan satunya melakukan finger cross.
‘ Tuhan.. jangan biarkan kejadian tahun lalu terulang kembali..’

@ELFforSJ SUPER JUNIOR WIN DISK DAESANG AWARD!!! CONGRATS BOYS

@EverlastingSJ SUPER JUNIOR GOT THE 26th DISK DAESANG AWARD!!! CONGRATULATION BOYS (cr: xxxx )

“KYAAAA!!!!”

Mereka bersorak kencang dan saling berpelukan, juga melompat-lompat diatas lantai karena bahagia. Lega—itulah yang sudah pasti dirasakan semua ELF di dunia ini, kerja keras mereka seakan tidak ada artinya dibanding kemenangan ini. Mereka berhasil memenuhi permintaan sang Leader sebelum pergi menjalankan Wajib Militer. Mereka menangis bahagia.

Hyosung segera mengambil ponselnya begitu juga dengan Hyehoon. Ingin mengucapkan selamat kepada seluruh member Super Junior. Setelah mengirimkan kepada seluruh member, mereka mengirimkan satu ucapan special untuk kekasih mereka.

To : 880203

Chukkahamnida, Kyu-ssi.. aku sangat bangga kepadamu, kepada kalian. Jaga kesehatanmu, cepat lah pulang ^^

SENT

To : baby CSW

Baby.. chukkaehaeyo. . kalian hebat!! Saranghae *kiss* take a rest please. . cepat pulang ya baby, aku menunggumu :*

SENT

-000-

13th jan 2012, Daejin University. .

Hyosung POV

“HUATCHIM!!”

Aku mengelap hidungku yang berair dengan tissue. Hidungku terasa gatal sekali, aku terus menggaruk hidungku hingga merah. Aku mengeratkan mantel yang menyelimuti tubuhku. aish—flu ini benar-benar mengganggu. Ujian untuk hari ini sudah kulewati dengan baik, aku segera beranjak keluar kelas. Kulihat Jinwoonie melambai-lambaikan tangannya kearahku. Lalu perlahan dia mendekat menghampiriku.

Aku terkejut melihat penampilannya sekarang, lebih…. Keren ? hahaha. Ia sedang sibuk shooting Dream High season 2 dan dalam drama itu, ia berperan menjadi seorang murid yang sedikit susah diatur tetapi berbakat. Tidak heran jika ia merubah penampilannya menjadi seperti sekarang ini.

“ Hyosungie—bagaimana ujian mu? Lama tak bertemu, kau kemana saja?” tanyanya disertai senyuman yang menunjukkan eye smilenya.

“ baik. Mwo?? Aku ? kau yang kemana.. dasar orang sibuk haha.. bagaimana kabar drama mu? “ aku menonjok lengannya pelan. Dan seperti biasa, beberapa yeoja yang lewat disekitar kami akan melemparkan tatapan sinis kepadaku melihat kedekatanku dengan Jinwoon.

Ia tersenyum malu, “ haha. Semuanya berjalan lancar, aku sangat senang karena ini merupakan drama pertama ku.”

“ chukka chukka “ aku bertepuk tangan pelan. “ ada schedule hari ini? “

ia mengangguk antusias “ eo, tapi hanya sampai sore, sebentar lagi kami selesai shooting. Episode pertama pun akan segera ditayangkan di KBS “ jelasnya.

“wah—baiklah, aku akan menontonnya haha..” aku melirik jam di tanganku, “ baiklah, aku pergi dulu. . sampai bertemu lagi. “ aku melambai kearahnya berjalan meninggalkannya.

“eh? Kau mau kemana?? “ teriaknya.

“ kerumah Eomma, sudah lama aku tak menjenguknya. Annyeong—“ aku melambaikan tangan lagi kepadanya dan segera menuju halte bis untuk menuju ke rumah eomma.

-000-

Aku turun di halte terdekat dari rumahku. Aku masih harus berjalan sekitar 100 meter agar sampai dirumah Eomma. “ HUATCHIM HUATCHIM!!” aku mengelap hidungku lagi. ini sudah entah yang keberapa kali aku bersin-bersin. Kepalaku juga menjadi sedikit pusing. Aigoo—sepertinya aku akan flu. Untunglah besok tidak ada jadwal ujian, jadi aku bisa beristirahat dirumah Eomma. Aku kangen sekali dengan Eomma, semenjak tinggal di apartemen, aku jadi semakin asyik dengan kuliahku.

Aku membuka pagar depan rumahku kemudian pintu utama rumahku perlahan-lahan, aku sengaja tidak membunyikan bel untuk memberi kejutan kepada mereka. Ah—tapi pasti appa sedang bekerja. Aku terkejut melihat ada beberapa sepatu yang asing untukku. ‘ ada tamu?’ batinku. Aku baru saja melepas sepatuku dan menggantinya dengan sandal rumah sampai kudengar suara teriakan orang yang sangat ku kenal dari dalam dan suara isak tangis seorang wanita.

“ ANDWAE!! Aku tidak akan memberikannya kepadamu!!” itu suara Appa. Loh? Appa tidak bekerja? Ada apa didalam? Berbagai pertanyaan langsung bermunculan di otakku. Aku memberanikan diri mengintip dari balik tembok. Appa sedang berdiri dengan kedua tangannya dipinggang menghadap sepasang suami istri yang—tunggu.. wajah ahjushi itu kenapa mirip sekali dengan ku? Aku seperti melihat wajahku versi pria di wajah ahjushi itu. Aku mengamati dengan lekat wajah ahjushi itu tetapi suara isak tangis yang semakin kencang membuyarkan konsentrasiku.

Kulihat eomma menangis tersedu-sedu di dalam dekapan sora onnie yang juga menangis. Lalu ahjumma itu juga terlihat menangis walau tidak seperti eomma. Wajah appa merah menahan amarahnya.

“ Kau tidak bisa seenaknya mengambilnya dari kami setelah dulu kalian meninggalkannya!!” appa melanjutkan omongannya kembali. Apa yang ingin diambil orang itu dari appa? Atau mungkin siapa yang ingin diambil dari appa??

“ Kami sangat menyesal Hyung.. dulu kami kira kehadiran seorang anak akan menyusahkan kehidupan kami. Saat itu kami baru saja merintis usaha kami Hyung. Kami berfikir seorang anak akan mengacaukan semuanya, mempersulit kami.” Ahjushi itu sekarang sudah terduduk di lantai sambil menangis. Seorang anak?? Entah kenapa jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Siapa anak yang dimaksud? Mengapa firasatku tidak enak. Aku tetap diam sambil terus mendengarkan percakapan didalam.

“ usaha kami sekarang sudah sukses Hyung, dan itu bertempat di England. Tetapi kami juga semakin bertambah tua. Kami juga kesepian Hyung hanya berdua saja. Kami ingin ada yang mewarisi semua hasil jerih payah kami.” Lanjut ahjushi itu lagi. Aku hampir saja berteriak tapi segera kututup mulutku dengan tanganku. England??

“cih—kenapa kau tidak mengandung anak lagi saja? Atau mengadopsi anak-anak dipanti asuhan? Banyak dari mereka yang juga membutuhkan kasih sayang orang tua!” sindir appa.

Kepalaku menjadi semakin pusing. Aku berpegangan pada sisi tembok. Aku mensugesti diriku agar tetap kuat, aku ingin mendengarkan semuanya sampai akhir. Karena jantungku tetap berdegup dua kali lebih cepat dan firasatku makin tidak enak.

“ Yoon Ji sudah tidak bisa hamil lagi Hyung. Rahimnya telah diangkat 2 tahun yang lalu karena kanker. Maka dari itu kami memberanikan diri kesini, mengambil anak kami yang pernah kami sia-siakan dulu. aku tahu ini memang memalukan hyung, kami bersalah, sangat-sangat menyesal hyung. Berilah kami kesempatan untuk memperbaikinya.“ ahjushi itu kini mulai memegang kaki Appa. Appa juga terlihat shock mendengar penjelasan ahjussi itu. Appa memijat keningnya dan berusaha melepaskan kakinya dari pegangan ahjushi itu. Appa kemudian duduk dan kelihatan seperti berfikir keras. Siapa anak yang dimaksud? Aku terus bertanya-tanya dalam hati mengenai kebenaran ini.

“ jangan ambil putri ku, aku mohon jangan ambil putriku.. “ isak tangis eomma kembali membuyarkan fikiranku, putri ?? eomma Cuma punya dua putri, sora eonnie dan aku. Apakah…

“yeobo… jangan berikan Hyosung ku kepada mereka , jangan biarkan mereka mengambil putri bungsuku.. aku mohon.. suruh mereka pergi dari sini.. jangan pernah kembali lagi kesini..” kata-kata eomma selanjutnya bagaikan petir yang menyambar tepat diatas kepalaku. Duniaku serasa berhenti berputar saat itu juga. Oksigen untukku bernafas seakan habis. Pandanganku kosong, kakiku melemas. Aku mencengkram meja kecil didekatku agar tidak jatuh.

Hyosung?? Aku mendengar eomma menyebut namaku? Aku tidak salah dengar kan? Putri bungsu eomma juga hanya aku dirumah ini. Kenapa harus aku?? Kenapa dari sekian banyaknya anak-anak didunia ini yang mengalaminya, aku termasuk diantaranya?? Apa salahku sampai orang tuaku menganggap aku adalah penghambat bagi karirnya? Bukankah karena mereka aku bisa hadir didunia ini? Hatiku seperti ditusuk oleh beribu pisau, sakit sekali. Bahkan aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, suaraku seperti hilang. Aku terus memukul-mukul pelan jantungku, mencoba menghilangkan rasa sakitnya.

Aku sudah terduduk lemas dilantai, berbagai macam fikiran buruk mulai memasuki otakku. Tapi satu, mengapa suaraku tidak bisa keluar? Apakah karena aku terlalu shock sehinga semuanya seperti tidak berfungsi.

“ pergilah.. aku tidak akan memberikan kesempatan kepada kalian. Aku tidak akan menyerahkan putriku kepada kalian. Berkali-kali pun kalian memohon aku tidak akan memberikannya. Aku sudah membuatkannya akta kelahiran dengan namaku, jadi kalian tidak bisa menggugat kami ke pengadilan. “ pernyataan Appa sedikit membuat hatiku lega, mereka menyayangiku seperti anak mereka sendiri. Aku seperti tersadar segera bangun dari lantai dan memakai sepatuku. Aku harus keluar dari sini, aku tidak ingin mereka memergokiku dalam keadaan seperti ini.

Aku segera berlari dan menutup pintu dengan asal sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Aku tidak peduli, yang aku inginkan adalah menyendiri, menenangkan diriku, merilekskan pikiranku. Tetapi entah kenapa kakiku malah membawaku kearah taman bermain. Aku duduk disebuah ayunan di pojok taman, memperhatikan anak kecil yang bermain dengan riangnya. Seakan tidak ada satu masalah pun yang membebaninya.

Orang tua mereka pun senantiasa mendampingin mereka bermain, ah—senangnya . aku kembali memikirkan hal tadi, teringat beberapa percakapan yang lalu yang terasa janggal. .

Flashback Start..

“eomma, kenapa tidak ada foto eomma saat habis melahirkanku? Foto dengan onnie ada, oppa juga ada..” aku membuka-buka album foto keluarga yang tersusun rapi di rak ruang keluarga.
“eh? F foto mu? “ eomma terlihat gugup.

-00-

“appa , kenapa hanya aku yang bersekolah di asrama? aku kan tidak ingin jauh dari kalian. “
“ itu appa lakukan demi kebaikanmu juga Hyo.. kau pasti akan mengerti nanti. “ appa tersenyum sambil mengelus kepalaku.

-00-

“ oppa! Kenapa aku makin tidak mirip denganmu sih, dengan onnie pun tidak, appa eomma apalagi.. “ aku memperhatikan wajahku di cermin. Kami semua sedang berkumpul di ruang tamu, eunhyuk oppa sedang free sehingga ia pulang ke rumah.

“ hahaha jelas lah, kau kan bukan anak eomma dan appa” eunhyuk oppa menjulurkan lidahnya kearahku.

“ HyukJae!! Jaga bicaramu” bentak appa.

“ n ne appa, mianhae hyo..” eunhyuk oppa menundukkan wajahnya.

“ ah—gwenchana oppa, hehe aku tidak menganggapnya serius kok.”

‘ kenapa appa kelihatan begitu marah?’ batinku.

Flashback End..

Isnt she lovely.. isn’t she wonderful.. isn’t she precious..

Dering ponselku membuyarkan lamunanku. Aku merogoh saku mantelku. Sora Onnie.

“Yeoboseyo onnie..”

“ Hyo-ya.. eodigayo? “

“ na? mm baru saja keluar kampus.. waeyo?” aku menggigit bibir bawahku. Maaf onnie aku berbohong..

“ oh.. aku kira kau tadi kesini. Hmm, lagipula lama kau tidak mengunjungi kami. Kau sudah sama sibuknya seperti oppa mu. “ suara onnie terdengar sedih.

“ aniya onnie.. aku baru berencana kesana akhir pekan ini.. mianhae..” hatiku terasa sakit sekali, kenyataan yang aku dengar tadi masih terus berputar di otakku, ditambah sikap onnie yang seakan-akan tidak terjadi apa-apa makin membuatku sakit, mataku berair.

“ gwenchana.. o! suaramu agak lain, kau sakit? “

“ a anieyo.. Cuma sedikit flu, gwenchana.”

TESS

Airmataku jatuh juga akhirnya. Aku buru-buru mengusapnya. Tidak lucu ketika kita menangis di taman bermain yang penuh dengan keceriaan.

“ aigoo.. kau ini sudah tau gampang terkena flu sejak kecil, pakai baju hangatmu dan syal jika keluar. Pokoknya kau harus merasa hangat. Apalagi cuaca memang sedang dingin. Pemanas di apartemen mu masih berfungsi kan? Aku akan kesana merawatmu.”

Aku tak bisa menahannya lagi, aku benar-benar menangis sekarang. Perhatian yang sora onnie berikan terasa menyakitkan buatku. Bagaimana aku tidak begitu mencintai keluargaku sekarang? Mereka selama ini mencintaiku walaupun aku bukan darah daging mereka, hanya anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya karena mengejar usaha mereka dan memanggapnya sebagai penghambat kesuksesan mereka.

Tapi disisi lain aku merasa dibohongi juga, mengapa mereka tidak memberitahuku? Aku punya hak untuk tahu kan?? Kenapa aku harus mengetahuinya dengan cara seperti ini??

“ onnie.. gwenchana.. jeongmal.. aku bisa mengurus diriku sendiri.. tenang saja” aku memaksakan sebuah senyum diwajahku.

“ aku akan menghubungi hyukjae agar—“

“andwae! Jangan beritahu oppa, dia sibuk dengan jadwalnya. “

“ baiklah.. kabari aku lagi ya.. jangan lupa pesan ku tadi dan minum obat mu hyo..”

“ ne onnie.. gomawoyo.. salam buat appa dan eomma.. aku merindukan mereka..”

“ ne.. annyeong “

Aku memutuskan sambungan telepon. Angin berhembus kencang. Aku merapatkan mantelku dan mengayunkan ayunan yang kunaiki. Sudah lama aku tidak naik ayunan, rasanya menyenangkan jika bisa kembali kemasa-masa dahulu. Tak terasa matahari pun terbenam. Taman pun sudah sepi. Aku beranjak dari ayunan dan berjalan menuju halte bus.

-000-

Sepanjang perjalanan aku menyandarkan kepalaku dijendela. Kenapa aku terus memikirkan masalah tadi sih? Sakitnya sudah sedikit menghilang, tetapi jadi kepikiran terus. Apa yang harus kulakukan agar melupakannya? Aku memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di trotoar. Pertokoan, restoran dan coffeshop terlihat sangat membosankan untukku. Biasanya aku suka makan, window shopping atau duduk berjam-jam di coffeshop jika sedang stress.

Tapi tidak untuk kali ini. Aku ingin sesuatu yang beda dan sebuah iklan soju di baliho yang besar menarik perhatianku. Semenjak aku kembali ke korea aku belum pernah menyentuh minuman bernama soju tersebut. Walau jika sedang pergi bersama teman atau berkumpul di dorm super junior sekalipun. Aku sama sekali tidak tertarik mencobanya. Selama aku bersekolah diluar negeri pun aku sama sekali tidak berani menyentuh alcohol karena eomma dan appa melarangnya. Susah bertahan dengan apa yang kita yakini benar dimana lingkungan kita sangat berkebalikan dengan keyakinan kita itu. Dan aku pun mati-matian mempertahankannya. Tapi sekarang, entah kenapa rasa penasaranku tiba-tiba muncul, tanpa pikir panjang aku segera turun di halte terdekat. Kulangkahkan kakiku menuju sebuah restoran.

“ Gangnam?! Aku di gangnam?? “ pekikku kaget. Aku salah naik bus! Seharusnya aku naik bus menuju ke apartemenku bukan kearah.. dorm.

“eotthokhae… jinjja paboya..” aku memukul kepala ku pelan. Ada apa dengan otakku sih?

“annyeong haseyo.. selamat datang.. ”

“ye, a annyeong haseyo..” ucapku kikuk sambil membungkukkan badanku sekenanya.

“ silahkan duduk, mau pesan apa agashi? “

“ apakah ada soju? “ tanyaku ragu-ragu.

“ah ye, mau pesan berapa? “

“ 1 botol saja dulu “

“ lainnya? “

“ eobseo, itu saja. Kamsahamnida”

“ye, jamkanmanyo..”

Aku memijat keningku pelan. Ah, kenapa makin bertambah pusing sih? Bisakah ditunda sampai aku tiba di apartemen? . tak lama pesananku pun datang. Aku menuangkan sojunya ke gelas yang disediakan. Aku memperhatikan gelasku yang sudah penuh, “ gwenchana, kali ini saja..” . lalu aku mulai meneguk cairan di gelasku. Aku memejamkan mata saat menelannya, “ wlee..” aku menjulurkan lidahku. Rasa apa ini? Tapi kemudian aku menuangkannya lagi ke gelasku dan meminumnya sampai habis.

“ ahjumma.. satu botol lagi..” pesanku. Aku merasa kepalaku menjadi berat sehingga kuletakkan kepalaku diatas meja. Ahjumma tersebut telah mengantarkan pesananku. Aku langsung meminumnya lagi sampai habis. Entah apa yang mendorongku agar tetap minum atau memang otakku lagi-lagi tidak berfungsi dengan benar karena aku memesan lagi botol ke 3. Kepalaku benar-benar berat, kusanggah kepalaku dengan tangan kiriku.

“ agashi.. gwenchana? Kau sudah kelihatan mabuk, apakah kau sendirian saja? “ Tanya ahjumma khawatir.

“ ne?? aniya.. nan gwenchana.. “ ucapku sambil melambaikan tanganku kepada ahjumma.

“ ah ye.. tapi sebentar lagi kami tutup.. “

“ ne.. arraseo ahjumma.. “ ucapku meyakinkannya tapi aku ragu apakah wajahku meyakinkannya atau tidak.

Sepeninggal ahjumma ponselku berdering, aku merogohnya dari saku mantelku. Tanpa melihat si penelpon aku langsung mengangkatnya.

“ yeobseoo..”

“ ………..”

“ nuguseyo? “ tanyaku tidak fokus, kepalaku semakin pusing.

“ …………”

“ ah.. anieyo.. hahaha na? aku di gangnam.. haha”

“ ……….“

“ hahaha.. ye ye ye..” aku menjawab semampuku karena kepalaku menjadi semakin pusing. Samar- samar kudengar suara diseberang yang terus berteriak memanggilku di telepon.

-000-

Author POV

Jinwoon dan member 2AM baru saja selesai makan malam bersama di restoran tak jauh dari dorm mereka. Mereka berbincang terlebih dahulu di parkiran. Angin yang berhembus sedikit kencang sehingga jinwoon mengeluarkan beanie yang dibawanya di saku mantelnya untuk menghangatkan kepalanya.

“ aigoo. . kau hanya punya satu beanie itu ya? Aku bosan melihatnya tahu. “ protes seulong melihat jinwoon memakai Beanie yang sama lagi.

“ aish hyung, kau ini seperti tidak pernah menerima barang dari orang yang special sih?” Jokwon memandang sinis kepada seulong. Seulong pun diam. Changmin sibuk berbincang dengan manager nya sehingga tidka menghiraukan percakapan dongsaengnya.

Jinwoon terkekeh melihat kedua hyungnya. “ bahta! Kau iri ya hyung? “ ledek jinwoon yang dibalas jitakan oleh seulong. Jinwoon mendengus kesal. Ia jadi teringat si pemberi beanie tersebut. Sebuah senyum terukir dibibirnya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi satu nomor.

“…………”

“ Ya! Hyosungie! Suaramu..” Jinwoon terkejut mendengar suara Hyosung yang seperti orang mabuk. Jokwon dan seulong saling berpandangan melihat magnae mereka.

“…………”

“ Jinwoon. Ya! Eoddiesso? Kau mabuk?? “ volume suara jinwoon cukup keras sehingga membuat changmin dan manager mereka menoleh ditengah pembicaraan mereka yang serius. Seulong dan Jokwon segera menghampiri Jinwoon dan menaruh telunjuk mereka dimulut masing-masing. Mengisyaratkan agar tidak terlalu kencang. Masalahnya mereka sedang berada diluar, kalau di dorm sih tidak masalah magnae mereka ini mau berteriak sekencang apapun saat menelepon.

“…….”

“ Gangnam?? Sedang apa disana? “ jinwoon makin bingung.

“……..”

“ ya! Ya! Hyosungie! Yeobseo.. yeobseo..” sambungan terputus. Jinwoon meremas beanie nya.

“ waeyo? “ Tanya Seulong bingung.

“ dia sepertinya mabuk. “ jawab jinwoon singkat.

“ keurrae.. “

“ Jokwon hyung, aku pinjam mobil mu ya, kau menumpang sama manager hyung saja ya.”

“ mwoya?? Shireo! “ tolak Jokwon.

“ jebal.. “ mohon Jinwoon.

“ aish, jinwoon-ah.. hubungi yang lain saja untuk menengoknya.. oppa nya? jangan gegabah jinwoon-ah..” nasihat seulong. Mereka sedang mempersiapkan untuk comeback album mereka. Jangan sampai tertunda karena kesalahan yang seharusnya tidak perlu untuk dilakukan.

“ aku janji akan hati-hati hyung.. “ Jinwoon meminta kunci mobil ke Jokwon. Jokwon masih belum ikhlas memberikannya.

“ hyung.. kuncinya..” pinta jinwoon lagi. Dengan berat hati akhirnya Jokwon menyerahkan kunci mobilnya kepada Jinwoon.

“ ingat kau masih ada jadwal besok jinwoon-ah” pesan manager hyung.

“ algesseumnida hyung. annyeong “

Jinwoon melajukan mobilnya dengan kecepatan 60 km/jam. Jalanan sudah mulai sepi. Ia menghubungi ponsel Hyosung lagi. Tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi. diangkat, suara seorang ahjumma. Jinwoon menanyakan alamat restoran milik ahjumma tersebut dan segera menuju kesana.

“ Hyosungie.. kenapa aku begitu khawatir.. “ gumam jinwoon pelan.

Jinwoon POV

Sesampainya aku disana, sang ahjumma sudah menunggu didepan tokonya dengan cemas. Aku melilitkan syal hingga menutupi mulutku dan bergegas kedalam restoran. Aku membungkuk memberi salam kepada ahjumma itu dan dia menunjuk kedalam restoran dimana Hyosung sedang tertidur dengan kepala dimeja.

Aku menyentuh bahunya pelan, membangunkannya. “ hyosungie.. ireona.. ayo kita pulang..” . ia tidak bergerak sama sekali, nafasnya sangat teratur. wajahnya terlihat lelah sekali. Aku jadi tidak tega membangunkannya. Aku baru berencana akan menggendongnya ke mobil tetapi tiba-tiba ia menggeliat.

“ hyosungie, ini aku Jinwoonie.. ayo kuantar pulang..” aku memegang tangannya untuk membantunya berdiri tetapi tangannya hangat, hampir panas. Dia sakit?? aku seketika menjadi panik.

“ kau demam??”

“ o! jinwoonie, apa yang kau lakukan disini? Aduh, kepalaku sakit sekali. “ ucapnya masih setengah sadar. Bau alcohol menyeruak dari mulutnya. Aigoo berapa banyak sih yang diminumnya?

“ kau minum berapa banyak hah?? Ayo kuantar pulang.” Aku membantunya berdiri dan mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja. Aku membayar bill nya.

“ apartemenku jauh sekali, aku tidak mau pulang. “ tolaknya.

“gomawo ahjumma… ya! Terus kau mau kemana? Kau demam. Mau ke rumah sakit?” tawarku. Aku membuka pintu mobil dengan satu tangan dan mendudukannya di kursi penumpang.

“ shireo… aku sehat kok. “ detik kemudian ia sudah kembali tertidur.

Apa yang harus aku lakukan? Kenapa tiba-tiba aku menjadi blank? Kalau dia tidak mau ke apartemennya lalu kemana? Apartemenku? Tidak mungkin! Ke rumah sakit? dia tidak mau.

“ oppa.. oppa..”

Aku menoleh kearahnya, ternyata ia mengigau dalam tidurnya. Chamkan! Eunhyuk Hyung!! Aigoo… bagaimana bisa aku sebodoh ini ckck, aku mengambil ponselnya untuk mencari nomor eunhyuk hyung. Aku terkejut melihat wallpaper ponselnya.. foto… Kyuhyun hyung?? Sepertinya foto ini di crop. Karena ada potongan lengan seorang wanita rambutnya panjang tergerai. Siapa wanita difoto ini? Aku jadi sedikit curiga, Ah—diakan memang elf dan penggemar kyuhyun hyung. Dan ini bukan waktunya mengkhawatirkan hal semacam ini. Segera kucari kontak Eunhyuk hyung diponselnya.

“ yeobseo Hyo-ya..” sapa Eunhyuk hyung.

“ anii hyung.. ini Jinwoon.. “

“ Jinwoon?? Adikku?”

“ apa kau bisa menjemputnya? Dia sedikit mabuk dan sepertinya juga demam hyung.” Aku menjelaskan keadaanya.

“ mwo?? Mabuk?? Demam?? Bagaimana bisa?? “ Tanya Eunhyuk hyung panik.

“ akan aku jelaskan nanti hyung, dimana kau mau menjemputnya hyung? “

“ aku masih ada musical Jinwoon-ah, kalian dimana?”

“ kami di Gangnam, apa aku antarkan saja ke dorm mu hyung? “ tawarku karena sepertinya Eunhyuk hyung masih sibuk.

“ o! ne ne, nanti ada member yang menjemputnya disana, bertemu diparkiran bagaimana? Maaf merepotkanmu Jinwoon-ah”

“ ne.. ah anieyo hyung. Aku sama sekali tidak repot. Baiklah, aku berangkat sekarang hyung. Annyeong “

Aku mengembalikan ponselnya kedalam saku mantelnya.

“ kyu-ssi, kyuhyun-ssi..” aku baru akan menutup pintu mobil ketika kudengar ia mengigau lagi dengan nama yang berbeda.. aku terbelalak menatapnya.. Kyuhyun hyung???

-TBC-