
Title : How Are You Doing ?
Length : One Shoot
Genre : Romance, Angst
Category : Songfic
Rate : PG
Cast:
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Lee Hyosung
Cho Kyuhyun
And other cast
Note : fanfic ini terinspirasi sama lagunya Sung Si Kyung – Jal Jinaesseyo yang pernah dinyanyiin sama Kyuhyun secara live, tapi saya kurang tau kapan dan dimananya dia nyanyiin lagu ini (.____.). Setting waktunya ini sekitar saat-saatnya mereka udah harus berkeluarga ya, udah gak sesibuk sekarang (._.)v
Here’s the song
This is just a fanfic, no bash ^^
Comments are love and needed, happy reading
SungHyun ♥
Faded photographs in my desk drawer
I’m grateful for the days that left me with smiles
Super Junior’s Dorm 11th floor. . .
KyuHyun POV
Aku membuka laci meja disamping tempat tidurku, mencari duplikat kunci mobilku yang tercampur dengan teks lagu-lagu bagian ku yang kuberi coretan-coretan tanda agar aku mudah menghafalkan nada dan lyricnya serta kertas-kertas lainnya yang aku sendiri lupa mengapa aku menyimpan begitu banyak kertas di laci ini.
“ Kyuhyunie, sudah ketemu? “ aku menoleh kearah Ryeowook yang berdiri didepan pintu kamarku. Lalu kembali sibuk mencari kunci ku diantara kertas-kertas tersebut.
“ heung—belum, aku ingat kalau aku mena—“ kata-kataku terhenti saat menemukan sebuah foto yang warnanya sudah memudar. Foto ini.. foto aku bersama seseorang yang pernah sangat kusayangi, anio masih sangat kusayangi sampai saat ini. Aku teringat usahanya yang sangat giat memaksaku agar berfoto dengannya, kami berdua tersenyum puas karena baru saja berhasil menjahili semua Hyung agar membeli Pizza untuk kami. Wajah serta senyumnya masih tercetak jelas diingatanku walaupun sudah 4 tahun terhitung sejak kami memutuskan untuk berpisah dan menjalani hidup masing-masing sendiri, mencari yang terbaik untuk kami berdua.
“ Kyuhyun-ah aku menemukan kunci asli mu di se—“ aku mendengar Eunhyuk hyung berteriak dari arah ruang tamu hingga akhirnya terhenti saat didepan pintu kamarku.
Ryeowook mengambil kunci dari tangan Eunhyuk hyung “ kami letakkan disini ya “ ia menaruhnya diatas kasur Sungmin Hyung lalu mendorong badan Eunhyuk hyung agar berbalik meninggalkan aku yang masih menatap rindu kearah foto yang kupegang.
Precious times when I cherished all that I had
Each step has become a precious memory
“ HHHHHH… “ aku menghela nafas dengan berat, seakan sebuah beban besar baru saja ditaruh diatas pundakku. Mengapa semua memori saat kami masih bersama dulu muncul kembali disaat aku sudah berada di penghujung jalan dalam tahap melepasnya, merelakannya bahagia bersama dengan orang lain yang bisa menyayanginya lebih dariku. Semuanya masih jelas teringat di benakku, bagaimana aku melewati hari-hariku bersamanya. Bahkan sampai sekarang pun aku masih mensyukuri bahwa dia pernah menjadi bagian hidupku. Memberikan pelajaran hidup untukku dengan semua cobaan yang ada saat itu.
I wonder if you look at the photographs too
I wonder if you are still the same
Aku mengalihkan pandanganku ke lantai kayu yang ku pijak lalu kembali menatap foto ditanganku. “ apa kau masih menyimpannya juga Hyo? “ bisikku parau, aku memaksakan sebuah senyum diwajahku. Tak kusangka pengaruh perpisahan ini begitu besar buatku, terlebih untuk hatiku. Apakah kau masih sama seperti terakhir kita bertemu? Semenjak berpisah kami sama sekali tidak melakukan kontak komunikasi secara langsung, melalui Eunhyuk hyung lah kami menanyakan kabar, menitipkan salam , hanya sekedar itu saja tapi sangat berarti bagiku.
Apakah ia masih mudah mengangis ? apakah ia masih suka menghabiskan bergelas-gelas cappucinno jika sedang stress? Apakah ia masih suka berteriak jika sedang marah dan berbicara dengan bahasa inggris yang kadang aku sedikit kurang mengerti mengingat ia bersekolah asrama diluar negeri.
Whether I still live in your heart
I’m curious but I will try to hold on
Because I know that no matter how much we try to turn back time
We are no longer who we used to be
Aku membaringkan tubuhku ke kasur menatap nanar kearah langit-langit kamarku. Apakah aku masih menempati sedikit ruang dihatimu? Masih adakan kesempatan kedua untuk kita kembali bersama? Ah—aku seketika menjadi sangat penasaran dengan semua ini. Tapi aku tahu, kemungkinannya sangat kecil, bahkan hampir tidak mungkin. Aku tidak ingin melihatnya terluka karena diriku lagi, cukup saat itu saja aku pertama dan terakhir melukai hatinya.
Pandanganku sedikit blur, mataku mulai terasa berat. “ hoahm..” aku menguap lalu mengusap mataku agar menjernihkan pandanganku. Aku melirik jam tanganku, masih ada waktu sekitar 2 jam sampai waktu makan malam. Lambat laun mataku makin terasa berat, aku memblok sinar lampu kamar yang menyinariku dengan lenganku lalu memejamkan mataku setelah sebelumnya aku menaruh foto tersebut tepat diatas dadaku dan menutupnya dengan tangan kananku.
I’m going to let go of the last remaining hope
I will step aside so you can move on
My love for you is not enough
I hope you find someone who will fill up that empty space
I hope you let go of our memories
I wish you happiness
“ Ya! Kyuhyun-ssi ireonaseyo! Kyuhyun-ssi!” aku merasa seseorang menguncang-guncangkan badanku dengan kencang agar aku terbangun. Aish—aku baru saja tidur, kenapa menganggu orang yang sedang tidur sih?
“Kyuhyun-ssiiiiiii, ireonaseyo!! Ireona!!” aku mengerutkan keningku, mataku masih terpejam tetapi telingaku sudah lebih dulu bangun. Suara ini—hanya ada satu orang di dunia ini yang berani membangunkannya dengan berteriak seperti ini. Tapi itu tidak mungkin, pemilik suara itu tidak berada di Negara yang sama lagi dengan dirinya.
“aigoo—Kyuhyun oppa!! Ireona!! Ya babo!! Ireona!!” kenapa sekarang suaranya makin tidak asing lagi?? Tubuhku makin diguncang0guncang dengan hebat. Aku membuka mataku perlahan mengerjapkannya berkali-kali menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Siluet seseorang yang sangat ingin kulihat selama bertahun-tahun tergambar jelas didepan mataku yang masih sedikit buram. Aku segera bangun dari tidurku dan duduk di atas kasur, mencoba membuat mataku bisa melihat jernih dengan membuka-tutup mataku bergantian.
Sepasang kaki sedang berpijak diatas lantai kamarku, aku terus memperhatikannya hingga keatas, ke wajah si pemilik kaki tersebut. Seorang wanita dengan wajah merah karena kesal dan kedua tangannya diletakkan di pinggangnya tengah menatapnya dengan tatapan ingin memutilasiku. Ini kan—maldo andwae!! Aku pasti sudah gila!!
“ ya!! Kau ini susah sekali sih dibangunkan?! Tidak berubah dari dulu, tsk “ kulihat ia menggelengkan kepalanya heran. Aku ingin memastikan bahwa itu benar dirinya, aku berdiri hingga wajahnya sedikit mendongak menatapku.
“ Hyo-ya. . “ aku memanggil namanya pelan, nyaris berbisik.
“ mwoya?! “ jawabnya galak. Benar!! Ini benar dia!! Aku reflex memeluknya erat, menenggelamkan tubuhnya dengan pelukanku.
“heeekkk—aku bb bi ssa mma ti se ssak c cho kkyu hyun!!” ia memukul-mukul lenganku agar aku melepaskan pelukanku. Aku tidak memperdulikannya, aku menghirup harum rambutnya terasa sangat familiar di hidungku.
“ aaa!! Appo!! Ya!! “ aku melepaskan pelukanku dan ganti mengusap-usap lenganku karena cubitannya.
“ rasakan!” ia tersenyum menang. Ah—aku akhirnya bisa melihat senyuman itu lagi.
Aku kembali duduk dikasur dan menepuk-nepuk kasur disampingku, menyuruhnya untuk duduk. “ bagaimana kabarmu? “ aku memutar posisi dudukku sehigga berhadapan dengannya.
“ fine, as always. You?”
“ nado. . bagaimana kau bisa kesini? “ tanyaku heran.
“ bisa lah, kau tidak perlu tahu. Kekeke “ ia tertawa lagi, membuatku semakin merindukannya.
Hening lama menyelimuti kami berdua. Aku terus memperhatikannya, seakan dia akan hilang jika aku melepaskan pandanganku darinya. Aku tiba-tiba teringat dengan rasa penasaranku tadi. “ Hyo-ya. .”
Ia menoleh kearahku. Aku menatap matanya dalam, sorot kerinduan terpancar jelas dimatanya, sama sepertiku. “ apa kau bahagia? “ tanyaku to the point.
Ia tersenyum hangat setalah sebelumnya sedikit tersentak dengan pertanyaanku. “ ne. . tentu saja aku bahagia. . kau juga kan?”
Aku mengangguk pelan, “ ne. . mianhae Hyo-ya, nan jal meotessoyo—“ aku merasa perlu mengucapkan ini lagi, meminta maaf kepadanya.
“ eiyyy . .” ia mengusap punggungku pelan “ gwaenchana. . itu sudah berlalu. . aku sudah baik-baik saja. . kalau tidak aku mana mau datang kesini. Kekeke.. “ ia tertawa lagi, tuhan. . aku merindukan semua tentangnya.
“ aku lega mendengarnya langsung dari mulutmu, sekarang dengarkan aku baik-baik. . “ aku memegang kedua lengannya dan mengarahkan tubuhnya agar menghadapku. Aku menatap matanya dan mulai berbicara.
“ aku akan benar-benar melepaskanmu, aku tidak akan mencoba lagi agar kita bisa bersama kembali. Aku akan menyingkir sehingga kau bisa melanjutkan hidupmu dengan lebih baik. Seluruh cintaku belum cukup untukmu, aku berharap ada seseorang yang akan melengkapinya untukmu. Tutuplah semua kenangan tentang kita, simpan ditempat yang aman sehingga tidak akan menganggu siapapun. Aku harap kau bahagia Hyo. .” aku tidak menyangka kata-kata seperti itu bisa mengalir lancar dari mulutku. Kulihat ia juga tidak menyangka akan kata-kataku barusan, ia masih menatapku menunggu kata-kata selanjutnya dariku.
Even if you miss me from time to time
Even if you meet somebody new
Even if you miss the days gone by
Please don’t be sorry
I will still love you
Even if I am able to go back to the days
When I didn’t know you
Please don’t regret the days gone by
Just remember the good memories that we shared
When all that mattered was us
“jawab dengan jujur, apakah kau merindukanku seperti aku merindukanmu selama ini? “ ia menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan.
Aku meraih dagunya dan mengarahkan wajahnya kearahku ,“ apakah aku masih menempati sedikit ruang dihatimu? “ diam. Ia tidak menjawabnya, ia memejamkan matanya dan sebutir air mata jatuh ke pipinya. Aku segera menghapusnya dengan tanganku.
“ aku mohon Hyo—kau harus membuka hatimu. Jangan pernah menyesali semuanya yang pernah terjadi Hyo. . jangan pernah meminta untuk kembali ke masa saat kita belum mengenal satu sama lain, cukup syukuri semuanya yang pernah berkaitan dengan kita.” Aku merasa mataku memanas, segera kualihkan pandanganku ke penjuru kamar. Ia menangis tanpa suara, hanya bahunya saja yang bergetar.
If we ever meet again
I hope to see you with someone who treats you well
I hope we can both smile
I hope for that day to come
“ jika suatu saat kita bertemu lagi, aku berharap kau sudah bahagia bersama orang yang menyayangimu lebih dari yang pernah kuberikan. Geuddaekajii jal jinaesseyo. . . “
Until that day
I hope you are well
Aku merengkuhnya dalam pelukanku lagi, tidak erat tetapi kusalurkan semua perasaan ku selama ini lewat pelukan ini. Mungkin ini yang terakhir aku bisa memeluknya seperti ini, jadi aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Ia masih terus menangis tanpa suara didadaku, aku mengelus-elus kepalanya. Aku mencium puncak kepalanya lama, lalu aku beralih ke keningnya. Sebuah memori terlintas dan membuatku tersenyum . ia sangat anti jika berkaitan dengat kening. Aku terus mencium keningnya lama, lebih lama dari puncak kepalanya.
Ia perlahan mendongakkan kepalanya, tangisnya sudah berhenti hanya tersisa isakan-isakan kecil. Aku mencium ujung hidungnya lalu menatapnya lagi. Aku mendekatkan wajahku kearahnya, mataku terpejam perlahan begitu pula dengannya.
Aku mencium lembut bibirnya, cukup lama. entah darimana datangnya keberanian ini, aku jelas tidak akan menyia-nyiakannya. Ini adalah first kiss kami. Lalu aku perlahan menyudahi ciuman ini, cukup sampai disini. Kami sama-sama membuka mata dan tersenyum malu karena kejadian tadi. Aku mengecup bibirnya cepat dan kembali memeluknya. Aku harus bisa merelakannya, melihatnya bahagia bersama orang lain akan lebih berarti untukku.
“ ya! Kau kelihatan gemuk kekeke. . sepertinya ia merawatmu dengan baik sehingga kau seperti ini. Kau harus menjaganya juga dengan baik. Kau juga harus bahagia bersamanya. Kita harus bisa lebih baik!” ia sudah kembali bersemangat sekarang. Aku tersenyum lega melihatnya. Aku tahu dia bukan gadis yang lemah, ia tahu bagaimana mengatasi masalahnya dengan caranya sendiri. Jika begini aku baru bisa melepasnya dengan tenang.
“ ne.. kita harus bisa lebih baik. .” aku mengelus kepalanya pelan.
“ eh? Suara apa itu? “ tanyanya heran.
“ suara? Aku tidak mendengar apa-apa , jangan menipuku.” Aku melirik sinis kearahnya.
“ ya! Aku serius. Aku mau mencarinya.. “ ia lalu berlari keluar mencari sumber suara itu. Aku berusaha mengejarnya, tetapi aku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku berteriak memanggilnya tetapi kenapa suaraku kecil sekali? Aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Aku berteriak meminta tolong tetapi tidak ada yang mendengarku. Perlahan terdengar suara musik , aku mengikuti sumber suara tersebut sampai benar-benar jelas lalu tiba-tiba aku jatuh kedalam sebuah lubang yang dalam.
DEG!
Aku bangun dengan terkejut, badanku basah oleh keringat. Aku mengambil ponselku yang berdering dimeja sebelah tempat tidurku.
“ yeobseo. .” aku langsung mengangkatnya tanpa melihat caller id nya.
“ oppa. . eodigayo ? “
“ o. . Chaehyun-ah, aku masih di dorm. . waeyo? “ aku melihat jam tanganku, jam 6. Satu jam aku sudah tertidur. Jamkanman—bukannya aku baru saja bertemu Hyo? Bukankah dia ada disini? Aku segera bangun dan berjalan keluar kamar, semua member sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“jamkanman Chaehyun-ah. . “ aku menutup mic ponselku, “ chogi. . apakah tadi ada tamu? Wanita mungkin? “ aku bertanya kepada semua orang di ruang tamu.
“ pfft, kau bangun-bangun langsung menanyakan tamu, wanita pula. ChaeHyun pasti sedih mendengarnya kekeke “ Yesung menahan tawanya melihat kelakuan dongsaengnya.
“ tidak ada siapa-siapa dari tadi, hanya member saja. “ jawab Ryeowook yang sedang asyik bermain dengan ipadnya.
Aku mengerutkan kening, bagaimana bisa seperti ini? Aku baru saja bertemu Hyo dikamarku, apa ini mimpi? Tapi kenapa terasa sangat nyata? Aku bahkan masih bisa merasakan kehadirannya saat aku memeluknya tadi.
“ hei Magnae. . mau sampai kapan kau diamkan telepon dari Chaehyun? “ celetuk Eunhyuk yang sedang asyik membaca majalah di sofa. Aku teringat Chaehyun yang masih menelepon. Aku mengangkatnya dan kembali masuk ke kamar.
“ jika itu adikku pasti kau tidak akan selamat selama sehari itu. “ celetuk Eunhyuk lagi. Aku terhenti di ambang pintu mendengarnya dan memutuskan untuk mengabaikannya.
“ kau pulang jam berapa? “ tanyaku kepada Chaehyun diseberang sana.
“ sebentar lagi oppa, kau jadi mau menjemputku ? “
“ ne, aku akan mandi dulu, kau tunggu saja disitu jika aku belum sampai. Arraseo? “
“ arraseo oppa. Tidak usah buru-buru. Hati-hati menyetirnya. Sampai jumpa. Saranghae .”
“ ne. . nado saranghae. .”
Klik
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya berulang kali. Aku menyentuh bibirku, first kiss nya. . masih terasa sekali. Benarkan ini Cuma mimpi? Kenapa sangat terasa nyata sekali. . percakapan dengan Hyo pun masih bisa kuingat semuanya.
“ Hyo ya.. kau harus bahagia. . aku harus bahagia. . kita harus lebih baik. .” aku berbicara kepada foto yang tergeletak diatas kasur ku. “ annyeonghi gaseyo Hyo-ya. .” aku memasukkan kembali foto tersebut kedalam laci.
End Kyuhyun POV
-000-
London, England. .
Hyosung POV. .
KRIIING
Aku terbagun karena bunyi alarm pororo ku. Badanku basah oleh keringat, mimpiku..
Aku memandang berkeliling, ini masih kamarku, tetapi bukannya baru saja aku berada di korea, di dormnya ? aku baru saja berbincang dengannya. Dan juga dia. . first kiss kami. . juga ucapan selamat tinggal darinya. . terasa begitu nyata.
Mungkin ini memang sudah saatnya aku move on. Sudah saatnya aku membuka hatiku. Memberi kesempatan orang lain untuk mengisi hatiku. .
aku melihat kearah sebuah foto lama yang masih terbingkai di meja samping tempat tidurku.
“ Naega Jal Jinaeyo oppa.. “

-kkeut-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar